Anda mungkin tidak sadar selama ini sudah sangat akrab dengan digital printing. Sehari-hari dikantor dan dirumah anda selalu menggunakannya. Digital printing adalah semua teknologi reproduksi yang menerima data elektronik dan menggunakan titik (dot) untuk replikasi. Semua mesin cetak yang memanfaatkan komputer sebagai sumber data dan proses cetak memanfaat prinsip titik; dimana gambar atau image pada material (kertas, plastik, tekstil dll) tersusun dari kumpulan titik-titik.
Definisi printer, copier, press
Berdasarkan mesin cetak aplikasi yang ada, maka cetak digital secara garis besar digolongkan 3;
(1) printer - seperti; printer untuk Personal Computer (PC)
(2) copier - seperti; mesin fotokopi yang dilengkapi dengan scanner
(3) press - seperti; mesin cetak offset.
Printer adalah semua teknologi,mesin cetak yang membuat gambar atau image pada paper yang diambil dari data/file computer; menghasilkan turunan cetak pertama atau cetak asli dimana setiap cetakan bisa unik atau berubah. Ciri ini memberi kemampuan personalisasi bahan cetakan. Semua dokumen bisa menjadi individual. Teknologi tinta yang dipakai bisa inkjet, wax-transfer dan toner.
Copier atau mesin fotokopi, dicirikan dengan alat scanner; menghasilkan cetakan turunan kedua. Mesin fotokopi dapat menggandakan cetakan turunan pertama. Tinta yang umum dipakai adalah toner, menggunakan teknologi elektrofotografi.
Press atau mesin cetak press, dicirikan dengan sistim mekanis yang mengandalkan penghantar (carrier) image untuk mereplikasi atau menggandakan suatu gambar yang sama ke material (kertas) cetak secara berulang dan terus menerus. Umum ditemukan pada alat cetak offset lithografi, yang memungkinkan melakukan pencetakan dalam ukuran kertas dan jumlah besar.
Dalam perkembangan mesin cetak aplikasi digital, dari ke tiga kelompok tersebut berkembang mesin campuran;
1. Printer Press
2. Press Printer
3. Scanner Printer.
Printer Press, sering disebut sebagai alat cetak printer (dokumen turunan pertama)kualitas tinggi baik hitam putih atau warna. Kecepatan mesin printer mencapai 50 lembar per menit atau lebih, yang dilengkapi dengan belt untuk mempercepat "delivery" dan menahan kertas dengan efek elektrik statik. Belt menggantikan fungsi roller yang sering menimbulkan masalah jamming untuk kecepatan tinggi. Alat printer ini memungkinkan membuat image yang dinamis / berubah pada photoconductor belt atau drum untuk setiap 50 lembar cetakan. Tak jarang alat printer ini dilengkapi dengan fasilitas penjilidan dan finishing.
Press Printer, alat mesin cetak offset press dengan proses pembuatan penghantar image langsung diatas mesin offset - tanpa proses prepress diluar mesin cetak, yang ditambahkan dengan alat cetak printer pada bagian akhir untuk memberikan informasi yang dinamis / berubah. Biasanya alat cetak printer tambahan ini menggunakan teknologi tinta inkjet.
Scanner Printer, alat cetak printer yang dilengkapi dengan peralatan scanner. Mesin cetak ini dilengkapi jaringan yang berhubungan dengan RIP, raster image processor, memungkinkan untuk melakukan modifikasi image hasil dari scanning. Jenis informasi adalah dokumen turunan pertama, ini berbeda dengan mesin copier yang sering rancu karena sama-sama menggunakan peralatan scanner.
Reproduksi Informasi
Untuk lebih memahami konsep digital printing, maka secara garis besar ada 2 kelompok reproduksi informasi;
1. Static printing
2. Dynamic Printing.
Static Printing, proses menggandakan informasi yang sama dan tetap dalam jumlah yang besar. Untuk merubah informasi dari satu hasil cetakan harus mengeluarkan daya upaya, biaya dan jumlah cetakan yang besar yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kita mengacu pada proses cetak tradisional seperti mesin cetak offset, dimana image carrier yaitu blanket memuat informasi yang sama dan tetap untuk sejumlah lembar cetakan.
Dynamic Printing, proses menggandakan suatu informasi yang bisa berubah-ubah untuk setiap lembar cetakan. Kita bisa mengacu pada mesin copier atau fotokopi, yang dapat menggandakan setiap lembar kertas dengan informasi berbeda tergantung pada informasi yang ingin dikopi.
Berdasarkan ciri dan sifat umum diatas maka dynamic printing banyak ditemukan pada peralatan, metoda dan teknologi digital printing. Kemampuan memberikan dinamika informasi terkait erat dengan penggunaan file dan/atau komputer itu sendiri. Komputer merupakan tonggak utama digital printing.
Parameter Reproduksi Informasi
Secara garis besar terdapat 2 kelompok parameter yaitu;
- Parameter utama dan
- Parameter pelengkap untuk membedakan Static and Dynamic Printing, dan sekaligus panduan dalam menggunakan masing-masing jenis cetakan.
Parameter utama, parameter yang bersifat unik dan khas dalam membedakan static dan dynamis printing, terdiri dari;
1. Image carrier
2. Variability informasi
3. Cycle time
4. Jumlah cetakan
5. Front cost
Lebih lanjut penjelasannya dapat dilihat paragraf berikut "Pendefinisian Digital Printing".
Parameter pelengkap, parameter yang sifatnya terus berkembang dan berubah dimana suatu saat memungkinkan tidak adanya perbedaan berarti dan unik antara static dan dynamic printing, terdiri dari;
1. Kualitas cetakan
2. Jenis kertas
3. Ukuran kertas
4. Jenis material tinta
Lebih lanjut penjelasannya pada paragraf "Teknologi Peralatan Digital Printing".
Pendefinisian Digital Printing
Dengan memahami parameter-parameter diatas dengan gampang kita melihat dan mendefinisikan multi aspek dan nama digital printing. Dynamic printing sendiri merupakan benang merah dari istilah digital printing, dimana penggunaan file komputer dan komputer merupakan cikal bakal perkembangan digital printing.
Perkembangan teknologi dari parameter-parameter utama reproduksi informasi menggiring perkembangan digital printing ke aspek-aspek, antara lain;
1. Direct Imaging;
Berkaitan dengan proses pembuatan "image carrier" (pengahantar image seperti plat dan blanket)
2. Variable Printing
Berkaitan dengan variable informasi
3. On-Demand Printing
Berkaitan dengan jumlah cetakan, cycle time dan front cost
4. Distributed Printing
Berkaitan dengan teknologi file komputer itu sendiri yang bisa dipindahkan dan disimpan
5. Digital Prepress dan Workflow
Berkaitan dengan teknologi file komputer itu sendiri yang bisa dipindahkan dan disimpan
Impact & Non-Impact printing
Apakah faktor impact dan non-impatc printing mempunyai dan berperanan dalam perkembangan digital printing?. Jawabannya iya dan tidak, pada awalnya semua digital printing mengacu pada non-impact printing wlaupun dengan teknologi direct imaging kita bisa bisa melakukan proses cetak lithografi yang impact printing.
Namun yang jelas istilah ini bukan menjadi faktor yang mendefinisikan digital printing.
Impact Printing, ditandadi dengan kontaknya pembawa image dengan material cetak (kertas, plastik).
Teknologi Peralatan Digital Printing
Perkembangan teknologi perlatan digital printing sangat dipengaruhi oleh penggunaaan material tinta, antara lain;
- Tinta
- Toner
- Inkjet
- Lain-lain
Kualitas cetak, kertas dan ukuran dipengaruhi oleh perkembangan teknologi diatas dan sekaligus mempengaruhi segmen pasar cetak yang ada.
live support
Untuk pemesanan undangan Silahkan hubungi inoy_inil@yahoo.com
Terimakasih
telah mengunjungi Blog Kami
Blog Archive
Anda sering dibingungkan dengan pengertian antara Color Matching dan Color Management. Kedua hal ini sangat jauh berbeda pengertian dan aplikasinya pada proses pra-cetak atau pres-press. Color Matching lebih menekankan pencarian atau pencocokan warna tinta cetak, sementara Color Management menekankan pada pencarian persentase campuran warna proses umumnya dilakukan pada digital proofing.
Color Matching
Adalah proses mencari kombinasi warna tinta untuk mendapatkan hasil reproduksi sebuah warna acuan (color sample), dari sejumlah warna tinta dasar (basic inks) yang telah didefinisikan dengan target kombinasi yang tidak terbatas pada hanya warna proses.
Color Matching System dapat dikembangkan dengan melengkapi dynamic library system, sehingga software dapat bekerja secara Artificial Intelegence (Try And Save Data To Dynamic Library).
Contoh aplikasinya, sebuah percetakan mempunyai dan menggunakan tinta cetak tetap (property tinta tetap) yaitu: ProcessCyan, ProcessMagenta, ProcessBlack, ProcessYellow, ProsesHexachromeOrange, ProsesHexachromeGreen, Medium, OpaqueWhite, TransparentWhite, MediumYellow, RubineRed, WarmRed, DarkGreen, Purple, Maroon, ReflexBlue, Violet, SolidBlack. Data warna tinta tersebut diukur dan disimpan dalam library.
Saat ada permintaan warna khusus, contoh warna diukur dengan Spectrophotometer dan software akan mencari kombinasi tintanya dari data yang telah dibuat sebelumnya.
Data yang ada dalam software Color Matching biasanya berbeda, meskipun warna solid nya sama, namun aplikasi campuran bisa berbeda karena banyak faktor, terutama bahan kimia yang dipakai dalam pembuatan tinta cetak.
Oleh karena itu Proses Color Matching membutuhkan waktu yang cukup lama agar hasilnya sempurna (lebih baik kalau pabrik tinta yang menyediakan datanya) untuk mendapat hasil 1 tinta yang dicari.
Color Management
Adalah proses mengubah kombinasi warna untuk mendapatkan hasil reproduksi warna-warna tertentu, dari warna proses, biasanya CMYK atau RGB atau Hexachrome atau himpunan warna proses lainnya maximum 8 warna dengan target kombinasinya adalah warna proses.
Contoh umum aplikasi Color Management System adalah Digital Proofing. Dalam penerapan Color Management System (CMS) ada proses "3C" (calibration, characterization dan Conversion) yang dilakukan dengan seksama.
Yang lazim digunakan adalah pendekatan ICC (ICC Approach), namun berbagai macam methode pendekatan dapat juga dipakai. Hasilnya adalah campuran % dari Target Tinta Proses yang dipakai dimana bisa langsung digunakan pada Monitor, Inkjet Printer atau Film Separasi untuk proses cetak selanjutnya.
Sistim Digital Proofing
Ada beberapa catatan yang patut diperhatikan saat proofing dilakukan dalam sistim digital:
1. Pemanfaatan System Digital hanya akan berhasil baik apabila kondisi material yang dipakai dan proses (apabila dilakukan secara manual) stabil dan konstant. Tanpa ini mustahil System dapat direalisasikan dengan baik.
2. Penggunaan System Digital (baik Color Matching maupun Color Management System) saat ini belum dapat diaplikasikan pada warna (tinta dan bahan cetak) metallic dan pearl.
1. Pertanyaan: Seberapa Efektif Software Dalam Color Management?
1. Misalnya saja ada consumer goods di Amerika, memiliki agen advertising sendiri. Mereka mengirim file produknya ke Indonesia untuk di cetak di Indonesia. Di Indonesia perusahaan tersebut juga memiliki advertising sendiri dan akan di cetak di suatu percetakan besar, yang menjadi pertanyaan apakah fungsi software color management akan efektif dalam proses ini?
Jawab:
Warna Produk adalah Identity (suatu perusahaan yang sudah mapan mempunyai warna dan logo perusahaan yang pasti dan unik lengkap dengan nomor dan standar warna dan serta rasio ukurannya, red.), jadi tidak boleh diubah-ubah. Apabila warna produk dicetak dengan beberapa warna proses, maka parameter akan bertambah banyak, sehingga resiko penyimpangan warna menjadi besar. Oleh karena itu dibutuhkan Color Matching System untuk menghasilkan Tinta yang benar. Namun untuk sekedar "Proofing" dapat dilakukan dengan System Digital Proofing yang mengaplikasikan Color Management System (tentu hasilnya terbatas pada Color Gamut dari Alat Proofing yang digunakan)
2. Pertanyaan: Sotware berbeda apakah menghasilkan color proof yang sama?
2. Masih kasus yang sama, misalnya saja di Amerika software yang digunakan dari EFI sedangkan di indonesia menggunakan ORIS, apakah proof yang dihasilkannya bisa sama dengan cetakannya?
Jawab:
Digital Proofing tidak tergantung pada merk software. Dan CETAKAN TIDAK TERGANTUNG PADA PROOFING, jangan memaksakan percetakan mencetak sesuai dengan Proofing, hal ini hanya akan menghambat proses produksi saja.
Prosedur yang benar adalah: Percetakan harus dapat mencetak dengan standar yang benar, bukan yang berdasarkan standar bikinan/selera operator cetak. Dimana Digital Proofing harus dapat menghasilkan proofing yang sama dengan cetakan yang sudah menerapkan standard tadi, contoh standar misalnya dengan rata-rata ∆E* <= 6 untuk IT 8.7/3 Color Patches atau sejenisnya.
∆E* = perbedaan 2 warna
Bila anda lebih ingin mendalami tentang ∆E*, bisa kunjungi dengan meng-copy alamat berikut ke browser anda http://www.datacolor.com/color_experts_004.shtml
Secara ringkas;
∆E* = sqrt (∆L*^2 + ∆a*^2 + ∆b*^2) adalah rumus perbedaan 2 warna, dimana;
L, a dan b diambil dari konsep warna CIEL*a*b*, yaitu satuan warna absolut yang didefinisikan oleh CIE (singkatan untuk Commission Internationale de l'Eclairage/International Commission on Illumination) dimana nilainya tidak tergantung/independent dari kemampuan alat atau proses cetak. Satuan warna tersebut didefinisikan menjadi 3 dimensi yaitu, L* = sumbu yang menerangkan terang gelapnya warna, a* = sumbu merah/hijau dan b* = sumbu kuning/biru.
Dalam permutasi matematika, CIEL*a*b* yang disebut sistim planar (seperti bidang xyz, red.) dapat diungkapkan dengan sistem polar (sistim menggunakan busur derajat, red.) yaitu CIEL*C*h° (dimana L*= lightness, C*= chroma dan h°= hue), sehingga rumus persamaannya sebagai berikut;
CIEL*C*h° = CIEL*a*b*, dimana;
L* = L*
C* = Sqrt (a*^2 + b*^2); Sqrt = square root (akar) (simbol di calculator à ), ^ = power (pangkat) dan
Untuk h° = ArcTan (b* / a*); ArcTan = Arc tangent (Simbol di calculator yaitu atan atau tan-1).
Sementara a* adalah h° = 90° atau 270°
Untuk b* adalah 0° <= h <= 180°
Warna pada dasarnya merupakan bentukan 3 dimensi, sehingga disebut sebagai "color space". Untuk merepresentasi bentukan warna 3 dimensi ini dibutuhkan 3 sumbu, bisa RGB, CMY, Lab, HLS, dll. Kemampuan mata melihat memiliki gamut warna yang paling besar, kemudian RGB lebih kecil dan CMY lebih kecil lagi sehingga saat mengkonversi warna ke RGB dan CMY akan terlihat agak kusam (baca: tampilan di monitor).
Tetapi ada warna2 yang ada di CMY yang tidak bisa direpresentasi RGB dengan akurat misalnya warna yellow 100%, cyan 100% dan magenta 100%. Sebaliknya ada cukup banyak warna2 RGB yang TIDAK AKAN pernah ditampilkan dengan akurat misalnya ungu, hijau menyala, dll.
CMYK vs RGB
CMY atau CMYK adalah model warna penintaan (substractive color mode), warna2 primernya (Cyan, Magenta, Yellow, BlacK) tergantung pada pigment pada tinta & substrate yang dicetak. Sebagai catatan, printer dan cetakan hanya merupakan "output devices".
RGB adalah model warna pencahayaan (additive color mode) dipakai untuk "input devices" seperti scanner maupun "output devices" seperti display monitor, warna2 primernya (Red, Blue, Green) tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti CCD atau PMT pada scanner atau digital camera, CRT atau LCD pada display monitor.
Kedua model warna CMYK maupun RGB adalah tidak "merdeka", artinya CMYK tergantung pada proses cetak, pigment, substrate & sedangkan RGB tergantung pada kapasitas teknologi peralatan yang dipakai; artinya kalau kita mempunyai data warna R 180, maka pada 2 monitor yang berbeda kita mendapatkan persepsi yang berbeda pula, karena sangat sulit untuk menstimulasikan 2 monitor yang berbeda - apalagi kalau teknologi yang dipakai berbeda pula.
Karena pemanfaatan RGB itu biasanya dikontrol oleh pabrik alat, maka relatif lebih mudah bagi tim riset dan pengembangan pabrik alat tersebut untuk meningkatkan kemampuan alatnya agar dapat mencapai mutu yang tinggi dengan toleransi yang rendah.
Lain halnya dengan model warna CMYK ,khusus untuk cetak konventional, tinta diproduksi oleh pabrik tinta dan dicetak oleh percetakan menggunakan barbagai macam kertas. Proses reproduksi warna dilakukan dengan berbagai macam parameter, dan hasilnya pun dibawa kemana-mana untuk evaluasi -yang sering dibawah kondisi penerangan yang berbeda-beda - masalah metameri - sehingga menimbulkan banyak silang pendapat.
UCR vs GCR
Secara teoritis menggabungkan warna red, green dan blue dalam jumlah sama akan menghasilkan abu2 netral, sehingga red 50%, green 50% dan blue 50% bisa digantikan hanya oleh tinta black 50%. Photoshop mengenal UCR (Under Color Removal) dan GCR (Gray Component Replacement), artinya pada UCR hanya warna-warna shadow yang digantikan oleh tinta hitam, sedang pada GCR sejak dari warna abu-abu sudah akan digantikan oleh tinta hitam. Default Photoshop adalah GCR Medium.
UCR maupun GCR digunakan oleh Photoshop sebagai parameter apabila kita hendak mengkonversi RGB ke CMYK. Mempelajari lebih lanjut penggunaan UCR maupun CGR tergantung pada proses cetak, sehingga kita mendapatkan parameter yang paling sesuai dengan cetakan.
Saya mempunyai trik mengkonversi 1 gambar dengan 2 macam proses konversi; (1) biasanya saya pilih text hitam dan mengkonversi ke CMYK dengan Black Maximum, lalu (2) hasil Black tersebut kita "merge" ke hasil konversi gambar lainnya, sehingga text akan muncul 100%K overprint, tidak bolong. Hanya perlu diingat pada perhitungan GCR tidak berlaku 50%C + 50%M + 50%Y = grey, disini Photoshop menggunakan parameter standard tinta international (ISO dll.). Oleh karenanya, bila tinta yang kita gunakan tidak standard, maka konversi RGB ke CMYK menjadi issue yang ramai. Dengan kata lain, tidak ada satu solusi yang dapat memecahkan problem tersebut, mengingat banyak faktor yang tidak terukur atau standar.
Tips Konnversi
Jadi secara sederhana jangan harapkan warna RGB akan dikonversi sempurna ke CMYK. Tetapi perlu diingat bahwa warna adalah tampil dalam konteksnya, sehingga pada kebanyakan problem sesungguhnya bukanlah warna RGB tidak bisa dikonversi dengan baik, tetapi warna terlihat kusam karena impuritas warna.
Logikanya demikian, warna CMYK yang terdiri atas lebih dari 2 channel akan tampil kusam. Contoh magenta 100% yellow 100% akan tampil sebagai warna merah yang pekat, tetapi menggunakan magenta 100% yellow 100% dan cyan 10% akan memberikan kesan kusam.
Jadi untuk menghindari warna tampil kurang bagus atau kusam, caranya adalah setelah mengkonversi ke CMYK, tambahkan saturasi kira2 10-20 dengan fungsi Image>Adjust>Hue/Saturation (Ctrl/Cmd + U)
Tidak ada yang salah dengan konversi RGB ke CMYK di Photoshop. Yang menjadi masalah adalah kurangnya pengetahuan kita tentang warna.
Tips:
1. Simpanlah data warna original dan jangan mengkonversi warna jika tidak dibutuhkan, baik Lab --> RBG --> CMYK ataupun sebaliknya.
2. Konversi warna hanya digunakan pada saat terakhir, apabila kita akan membuat film separasi atau CTP.
3. Gunakan model data CMYK sebagai input untuk membuat Digital Proofing, jadi mohon maaf jangan membuat Digital Proofing kalau kita tidak tahu mau diapakan gambarnya. Target Profile harus jelas sekali, dan proses konversi RGB ke CMYK harus "identical" untuk digital proofing maupun pembuatan film separasi atau CTP, kemudian baru lakukan software proofing seperti dengan GMG, EFI, ORIS dll. untuk mengkonversi CMYKtarget ke CMYKproof.
"Mapping" Color Management
Dalam Color Management saat melakukan konversi RGB ke CMYK standar Photoshop, maka diperhitungkan gamut dari perangkat output saat melakukan "mapping" warna dari RGB ke CMYK. Kelebihannya adalah semua warna RGB akan dicoba "mapping" ke CMYK dan tidak ada warna yang cenderung flat karena di luar gamut. Kekurangannya adalah jika gambar asli tidak dikoreksi dengan optimal hasilnya malah akan cenderung kusam. Oleh karena itu saat menggunakan color management terdapat "rendering intent" yang berbeda-beda, jika anda mengkonversi gambar kartun, foto atau ilustrasi. Sebagai catatan, biasanya warna kartun adalah warna pastel, sebaiknya dalam GCR menggunakan Black minimum, kecuali skets hitamnya.
Bit Depth
Metafora bit depth adalah mainan LEGO. Perbedaan Lego orang dewasa dan anak kecil adalah lego orang dewasa berukuran kecil. Untuk merepresentasi bentukan color space 3 dimensi dari warna bayangkan kita ingin membuat bola dengan lego untuk orang dewasa dan anak kecil. Bola yang dibuat dengan lego orang dewasa akan menghasilkan transisi bola yang lebih halus.
Bekerja dengan bit depth tinggi akan memberikan kemungkinan hasil akhir yang lebih baik. Tetapi pada kebanyakan gambar hal ini tidak akan banyak berpengaruh. Bit depth tinggi sangat diperlukan untuk kondisi koreksi yang ekstrim atau kondisi gambar tidak ideal.
Raw
Raw komparasinya adalah film negative sehingga color spacenya lebih besar dari TIFF maupun JPG. TIFF dan JPG komparasinya adalah slide positif, artinya "what you see is what you get." Sedang dengan RAW, kita menyimpan data secara lengkap sehingga ketika dibuka bisa dipilih seperti halnya kita mencetak film negatif bisa dipilih lebih terang/gelap, diatur warnanya.
Memilih film negatif dan slide positif tidak ada benar dan salah, yang ada
tinggal preferensi fotografer.
MAC atau PC?
Semua representasi warna secara matematis di PC dan Mac adalah SAMA. Masalah utama adalah representasi visual, bukan file aslinya. Jadi bekerja dengan Mac dan PC BISA MENGHASILKAN OUTPUT YANG SAMA.
Keuntungan menggunakan Mac adalah monitor Mac secara default sudah dirancang untuk memiliki gamma (baca:kontras dan gelap terang) seperti kertas di mana warna putih tidak terlalu putih dan warna gelap tidak terlalu pekat. Sedang monitor PC secara default disimulasikan untuk kondisi elektronik seperti televisi yang kontras jauh lebih tinggi. Oleh karena warna yang sama akan tampil di monitor PC lebih kontras dan lebih gelap dibanding ditampilkan di monitor Mac.
Solusinya adalah melakukan kalibarasi sederhana menggunakan Adobe Gamma yang ada di Control Panel di mana monitor PC dikalibrasi menggunakan gamma 1.8, bukan 2.2 yang merupakan default dari monitor PC.
Memaksakan display monitor dengan cetakan adalah investasi yang besar sekali, mungkin banyak yang tidak setuju dengan saya dalam hal ini. Kepercayaan berlebihan terhadap display monitor (Soft proofing) dapat menimbulkan masalah karena SDM kurang paham & mengandalkan supplier untuk mengkalibrasi monitor dan perlu diingat jarang sekali color monitor yang dapat mengukur temperatur warna secara otomatis, jadi penggunaan Gamma tidak menjamin kalibrasi monitor berfungsi sempurna.
Artikel ini mengupas prinsip dan proses cetak, karakteristik kualitas cetak yang dihasilkan dan bagaimana pengaruhnya terhadap kebutuhan jenis tinta.
Secara umum ada 6 proses cetak berikut dengan 12 metode cetak yang bersangkutan. Diluar itu ada beberapa proses cetak khusus yang digunakan dalam kondisi berbeda.
6 Proses Cetak & Metode
1. Planografi;
Proses cetak dengan menggunakan permukaan datar dan rata.
Contoh metode cetak, yaitu:
- Litografi
- Collotype
2. Intaglio;
Proses cetak menggunakan permukaan yang dikerik (tenggelam).
Contoh metode cetak, yaitu:
- Rotogravure
- Steel die
3. Relief;
Proses cetak menggunakan permukaan timbul/menonjol.
Contoh metode cetak, yaitu;
- Letterpress
- Flexography
4. Stencil;
Proses cetak dimana tinta didesak keluar melalui saringan (stencil).
Contoh metode cetak, yaitu;
- Screen printing
- Mimeograph
Kedua proses cetak dibawah ini dapat digolongkan sebagai proses Non-Impact. Disamping itu dilihat dari jenis data yang diproses menjadi image dalam media cetak seperti umumnya kertas, kedua proses cetak dibawah ini digolongkan juga dalam Cetak Digital. Ciri paling utama, data diproses atau dihasilkan oleh komputer.
5. Electrostatic;
Proses cetak dimana image dihantarkan secara eletrostatis.
Contoh metode cetak, yaitu;
- Xerography
- Eletrofax
- Laser printing
6. Inkjet;
Proses cetak dimana menggunakan butiran tinta yang dikenakan arus listrik (setrum).
Contoh metode cetak, yaitu;
- Continuous inkjet
- Drop-on-demand inkjet.
Ketebalan Film Tinta Cetak
Ada berbagai ragam kondisi, kegunaan, keuntungan, kerugian yang terkait dengan ke 6 proses dan metode cetak diatas.
Dibawah ini terlampir perbedaan ketebalan film tinta Cetak Analog yang diwakilkan oleh 5 metode cetak;
1. Sheetfet offset (Litografi) = 1.3 micron (0.0013 mm) atau 0.05 mils
2. Web offset (Litografi) = 1.5 micron (0.0015 mm) atau 0.06 mils
3. Flexo (Relief) = 10 micron (0.010 mm) atau 0.4 mils
4. Gravure (Intaglio) = 20 micron (0.020 mm) atau 1.8 mils.
5. Screen (Stencil) = antara 25 - 125 micron (0.025-0.125 mm) atau 1.0-5.0 mils.
Perbandingan ini dilakukan diatas kertas Coated, dengan warna solid yang penuh, dalam ketebalan film yang (relatif) basah.
Kualitas Cetak dan Komposisi Material Tinta
Menilik perbedaan ketebalan tinta diatas, ada beberap hal yang bisa ditarik;
1. Secara umum semakin tipis film tinta, semakin memungkinkan untuk mencetak gambar atau image dengan ketajaman tinggi. Mesin cetak offset mempunyai gambar ketajaman yang paling tinggi, sementara mesin cetak screen terendah.
2. Proses pembuatan tinta menjadi sangat dipengaruhi oleh ketebaln tinta ini. Film tinta yang tipis pada offset membutuhkan tingkat pigmentasi lebih tinggi (untuk kekuatan warna) dibanding film tinta tebal pada Letterpress atau Flexography.
Film tinta tebal mempunyai lebih banyak filler (bahan pengisi) seperti Calcium Carbonate dan Magnesium Carbonate yang sangat berguna untuk meningkatkan sifat alir tinta di bak mesin cetak Screen Printing dan Letterpress.
Kriteria Perusahaan Cetak Dalam Membeli Kertas
Saat memilih kertas, pelanggan cetak cenderung tidak focus pada masalah teknis. Sementara anda percetakan justru sebaliknya, peduli dengan karakteristis kualitas kertas, berat kertas (gramatur), permukaan kertas, brand, saat memilih kertas untuk suatu pekerjaan cetak. Pelanggan cetak jelas mempunyai pendekatan memilih kertas yang sangat berbeda.
Ada 6 faktor paling tidak yang mempengaruhi pelanggan cetak dan designer cetak saat memilih kertas, yaitu: (1). Kesesuaian, (2). Performance, (3). Ketahanan usia, (4). Pengalaman, (5). Ketersediaan, (6). Biaya. Setiap orang atau pihak mempunyai prioritas yang berbeda diantara ke 6 faktor ini tergantung bagaimana situasi masing-masing.
1. Appropriateness - Kesesuaian
Memilih kertas apakah sesuai atau tidak atas suatu proyek cetak merupakan langkah pertama dalam mempersempit pilihan jenis kertas. Mengetahui dengan pasti bagaimana hasil cetak akan digunakan, oleh siapa, akan membantu kertas apa yang akan dipertimbangkan. Misalnya, apakah ini untuk direct-mail?, atau brosur, selebaran, bulletin atau bahkan majalah. Kemudian apakah brosur tentang produk itu berharga mahal atau murah. Selanjutnya apakah brosur tersebut cenderung akan disimpan dijadikan referensi dimasa mendatang atau hanya dipakai sekali dan langsung dibuang? Jenis informasi pada material cetak juga memainkan peranan penting apakah hanya sekedar tulisan, atau ada gambar yang ingin menonjolkan detail dari produk.
Pemilihan kertas juga menyumbang pada persepsi atau image yang ingin disampaikan melalui cetak yang dihasilkan. Lebih aman bila menanyakan kepada pelanggan cetak anda apa yang ingin mereka sampaikan kepada pelanggan akhirnya. Bila misalnya mereka peduli dengan image mahal dan kualitas tinggi, maka pemilihan kertas coated lebih cocok diajukan daripada kertas HVS (uncoated). Demikian pula bila mereka ingin menyampaikan pesan ramah lingkungan, maka penggunaan kertas daur ulang lebih tepat disodorkan.
Aspek lainnya dari kesesuaian adalah mempertimbangkan bagaimana suatu cetak dikirm kepada pengguna akhir. Apakah hasil cetak akan dikirim via pos udara, maka berat kertas dan aspek pengiriman surat harus diperhatikan. Semakin berat dan besar ukuran hasil cetak akan semakin mahal biaya kirimnya. Belum lagi memikirkan ukuran amplop yang tidak lazim, maka biaya akan semakin meningkat. Apakah hasil cetak disebarkan langsung dengan kurir kerumah-rumah menggunakan jasa pengantar koran atau majalah? Bila iya maka anda mempunyai lebih keleluasan dalam menentukan jenis kertas.
Percetakan harus mengambil langkah proaktif memahami apa yang diinginkan oleh pelanggan terhadap perencanaan proyeknya, membantu mereka menyeleksi jenis kertas yang dipakai sangat penting. Anda sebagai percetakan tidak ingin mendapat komplain atau mereka tidak pernah kembali ke percetakan anda, sebab hasil akhir cetak tidak sesuai harapan pembeli atau pengguna.
2. Performance
Performance kertas saat dicetak atau dengan kata lain kemampuan kertas saat dicetak dan diproses, adalah suatu factor dimana pembeli cetak harus pertimbangkan dengan menanyakan langsung kepada percetakan. Tidak jarang pembeli cetak sudah kesengsem dengan kualitas kertas tertentu, lalu memaksakan percetakan untuk mencetak. Namun ternyata percetakan tersebut tidak mampu atau mesinnya tidak cocok untuk jenis kertas yang diajukan.
Sebaliknya percetakan harus langsung memberi tahu kepada pembeli cetak atas situasi yang mungkin atau akan dihadapi bila mencetak kertas yang bersangkutan. Bisa jadi kertas tersebut dapat dicetak dengan baik diatas mesin cetak, namun mempunyai masalah selanjutnya pada proses UV coating, pelipatan, pemotongan dan lain sebagainya. Tidak jarang kertas tebal saat dipotong dan dilipat memberikan hasil yang buruk dimana sisi potongnya berdebu dan peca-pecah, sehingga membuat hasil akhir cetak keseluruhan sangat buruk. Tentunya pelanggan akhir tidak mau menerima kualitas hasil cetak yang rendah bila mereka mengharapkan hasil yang tinggi.
Atau proses personalisasi dengan inkjet atau cetak laser ternyata tidak bisa dilakukan diatas hasil cetak. Seperti diketahui personalisasi kemungkinan dilakukan oleh pihak percetakan kedua, sebab percetakan pertama tidak mempunyai fasilitas cetak inkjet atau laser. Maka perlu bagi pembeli cetak untuk mengkomunikasikan proyek yang dikerjakan dengan kedua pihak percetakan yang terlibat.
Pelanggan sangat menghargai bila percetakan mengetahui dan berpengalaman dengan suatu kertas bagimana dicetak, dilipat, dicetak dengan inkjet dan laser untuk personalisasi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah kertas misalnya masalah dot gain, warna, pelipatan kertas tebal.
3. Shelf life
Masalah ketahanan usia kertas perlu dicari tahu bila hasil cetak yang diinginkan untuk arsip dan referensi dalam rentang waktu panjang dan lama. Terlebih bila hasil cetak akan disimpan dalam waktu lama, apakah kertas dan kualitas cetak akan tetap sama, apakah akan cepat menguning. Kalau menguning dalam tempo berapa kurang lebih akan terjadi.
Kertas seperti kita ketahui tidak mempunyai “expiry date” atau bata waktu pemakaian. Secara umum saat ini ada dua macam kertas yang berkaitan dengan masalah arsip, maka tanyakan apakah kertas bersifat basa (alkaline) atau asam (acid). Kertas basa atau paling tidak netral mempunyai nilai keasamam sekitar 7 atau lebih, sementara kertas asam dibawah nilai 7. Kertas basa ditentukan oleh proses pembuatan kertas dalam “internal sizing” supaya kertas tahan (dalam tingkat tertentu) terhadap air.
Di Indonesia atau global saat ini, industri kertas sudah bergerak ke kertas basa, kertas asam sudah tidak lagi popular untuk keperluan cetak mencetak biasa, kecuali untuk tujuan tertentu yang memang membutuhkan kertas asam.
4. Sejarah - Pengalaman
Pengalaman masa lalu dengan suatu kertas sangat penting dipertimbangkan - pembeli produk cetak ingin tahu bagaimana percetakan yang dikasih order apakah mempunyai pengalaman baik atau buruk sebelumnya, terlebih bila menggunakan kertas khusus. Pembeli produk cetak tidak ingin ada kejutan diujung proyek cetak yang dikerjakan.
Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, pembeli produk cetak mengalami hasil cetak yang tidak memuaskan. Ini akan mengakibatkan proyek terlantar atau malah kegiatan promosi material cetak menjadi terhambat sama sekali. Bila itu terjadi maka akan ada biaya cetak ulang, apalagi bila percetakan bersangkutan tetap menagih biaya cetakan, sebab pembeli produk cetak harus mencari percetakan lain untuk melakukan cetak ulang.
Kemungkinan kedua bila kertas yang dipakai ternyata tidak bisa digunakan lagi untuk proyek lanjutan atau ulangan, maka pembeli produk cetak akan kerepotan lagi harus mendesai ulang material promosi untuk pengulangan cetak dimasa mendatang. Maka perlu untuk mengkonsultasikan segala kemungkinan dengan pembeli produk cetak atas jenis kertas yang dipakai.
5. Ketersediaan
Kasih tahu kepada pelanggan anda jika kertas yang dipilih merupakan produk standar atau reguler dari pabrik kertas atau tidak, serta apakah pengiriman kertas mempunyai waktu pengiriman lebih lama atau tidak.
Walaupun secara umum percetakan yang membeli kertas untuk pelanggannya, namun perlu diperhatikan juga apabila pelanggan mempunyai hubungan komunikasi dengan pabrik kertas. Sebab pabrik kertas yang aktif dan agresif kadang kala mencoba untuk berhubungan dengan pembeli besar produk cetak, agar supaya mereka mempunyai keberpihakan atas pabrik yang bersangkutan.
Terlebih bila produksi kertas dan jadwal percetakan menjadi sangat ketat satu sama lain, maka pembeli produk cetak sering terlibat aktif meghubungi percetakan dan pabrik untuk tetap siaga dengan segala sesuatu yang mungkin terjadi dengan proyek cetaknya.
Demikian pula bila menggunakan kertas khusus yang produksi kertasnya mempunyai jadwal tertentu diatas mesin kertas, maka perlu pelanggan anda dikasih tahu kapan kertas tersebut akan dapat dikirim ke percetakan. Sehingga pelanggan anda pun dapat mengukur apakah masih mungkin jadwal pengiriman produk cetak dari percetakan masih sesuai dengan target proyeknya.
6. Biaya
Paling tidak biaya kertas dalam proyek percetakan di Indonesia menyumbang 50% biaya keseluruhan, sebagai perbandingan di US atau negara industri maju lainnya sekitar 1/3 saja. Namun demikian factor biaya kertas yang walau hanya 1/3 sangat mempengaruhi semua percetakan dimana saja diseluruh dunia berusahan menghemat biaya kertas.
Pembeli cetak sangat ingin tahu apakah ada alternatif kertas yang bisa dicetak sesuai dengan keinginannya dengan biaya yang lebih murah. Umumnya setiap percetakan yang stabil dan berpengalaman didunia cetak, mempunyai kertas standard yang selalu digunakan untuk mencetak suatu proyek tertentu. Biasanya pula bila mereka selalu menggunakan kertas standard ini dengan jumlah yang relatif besar, mereka mempunyai harga khusus dari penyalur kertas. Hal ini memungkinkan percetakan memberi harga yang relatif bersaing. Jangan pula segan bila anda pembeli cetak, menanyakan adakah sisa kertas yang digunakan dalam suatu proyek sebelumnya. Bisa jadi bila jumlah proyek cetak anda cukup dengan jumlah sisa kertas tersebut, percetakan tidak segan memberi harga jauh lebih bersahabat.
Disamping itu jangan segan menanyakan merek kertas, bisa jadi ada 2 atau lebih kertas dengan kualitas yang kurang lebih sama, namun mereka mempunyai harga yang jauh berbeda. Hal ini disebabkan oleh kertas premium lebih mahal sebab mempunyai jaminan dan garansi dari pabrik kertas bila ada masalah maka percetakan akan diganti biaya kertas dan percetakannya. Dilain pihak kertas biasa tanpa gransi dan jaminan dari pabrik mempunyai harga jauh lebih murah, namun bila ada masalah cetak atau hasil cetak tidak bagus maka percetakan atau pembeli harus menanggung sendiri akibatnya.
Masa depan kertas dan cetak digital
Kebutuhan kertas di Indonesia sangat tergantung dengan tingkat ekonomi dan gaya hidup masyarakat, dan situasi politik sangat berperan besar pula. Banyaknya bisnis dan industri membutuhkan material cetak untuk alat promosi, alat bungkus atau packaging dan label untuk produk yang dihasillkan. Semakin kaya suatu masyarakat dan bangsa maka orang-orangnya membutuhkan kertas dan cetak untuk bahan bacaan dan komunikasi. Dengan gaya hidup yang praktis, masyarakat cenderung menggunakan kertas tissue untuk alat kebersihan yang bisa langsung dibuang, daripada kain yang harus dicuci, dikeringkan dan disetrika.
Lingkungan demokrasi yang tumbuh setelah berakhirnya rezim order baru, dengan jatuhnya Suharto memberikan kesempatan besar pada individu dan masyarakat menggebu-gebu mengemukakan pendapat dalam bentuk tulisan. Jumlah majalah, Koran baru meningkat deras, semuanya membutuhkan kertas dan percetakan untuk menyalurkan aspirasi masayarakat.
Peranan cetak digital atau digital printing dikendalikan oleh teknologi cetak eletronik dimana suatu proyek cetak dapat dilakukan dalam jumlah kecil dan bisa dipersonalisai dari lembar ke lembar. Bahkan orang bisa membuat cetak warna hanya dalam satu lembar saja menggunakan mesin cetak meja (desktop printer) dengan pemanfaat personal computer (PC). Sebelumnya untuk mendapatkan kualitas kertas cetak offset paling tidak pemebli cetak harus mempunyai minimum cetak sekitar 5000 lembar. Sekarang lagi-lagi dengan kualitas cetak yang hampir sama dengan menggunakan cetak elektrophotografis (electrophotographic) seperti HP Indigo, Xeikon, Nexpress pembeli cetak bahkan bisa membuat proyek cukup satu lembar saja dengan biaya yang jauh lebih murah bila ingin membuat 1 lembar cetak diatas mesin cetak offset.
Perkembangan teknologi inkjet yang juga dengan elektronik cetaknya akan mampu mengejar kualitas cetak elektrofotografis dan tentu dengan biaya jauh lebih murah. Kemampuan kualitas tinta inkjet yang bersamaan dengan perkembangan kualitas kertas inkjet semakin mendekat satu sama lain. Sebelumnya tinta inkjet sulit untuk dicetak dengan bagus pada kertas biasa, dimana tintanya tidak solid atau “blobor” , sekarang sudah mulai banyak kertas yang cocok dan bisa menerima tinta inkejt. Harga kertas inkjet juga mulai bersaing dan murah karena kompetisi pabrik kertas yang berlomba masuk ke segmen yang sama dan skala ekonomi yang bertambah dengan jumlah konsumsi kertas yang meningkat.
wedding card softcover dan hardcover adalah model wedding card yang sudah umum orang pake. nah...kali ini mari kita coba lihat model wedding card laiinya yang mungkin masih jarang orang memakainya. entah karena harganya yang tidak murah atau karena modelnya yang kurang disukai. Model wedding card yang saya maksud disini adalah wedding card model roll atau gulung. mengapa disebut demikian? karena isi dari wedding invitation card itu digulung dengan sebuah batang kayu. bentuk jadi dari wedding card ini seperti produk pasta gigi. Ya, dengan pembungkus kotak memanjang seperti pasta gigi. 

Untuk model undangan yang satu ini menggunakan bahan atau paper yang berbeda dengan undangan soft atau pun hard cover. untuk kotak atau wadahnya menggunakan kertas duplex karena kita hanya akan menggunakan sebelah sisinya saja, sementara sisi bagian dalam tidak dipakai ( polos ). kemudian untuk isi undangan menggunakan kertas yang bisa disebut dengan paper art atau kertas seni mungkin kalo orang indonesia bilang..??? paper art ini tipis dan mengkilap.
Umumnya model wedding card yang satu ini ada dua macam, yaitu model dengan kotak seperti kotak pasta gigi dan isinya digulung dengan satu kayu. model yang kedua yaitu model dengan kotak terpisah, jadi si kotak terbagi dua atas dan bawah...kotak yang atas juga berfungsi sebagai tutup sementara itu isinya digulung dengan dua batang kayu atas dan bawah. bisa dilihat pada gambar.
Untuk anda yang mungkin menginginkan undangan pernikahan yang unique, mungkin model ini bisa menjadi salah satu pilihan alternatif.


